Menjadi seorang ibu dengan anak balita yang begitu amat terlambat mentalnya, juga motoriknya, seperti menutup mata dalam kerapuhan sembari berbisik pada diri sendiri, "dia titipan yang mesti kuasuh dan rawat dengan sebaik mungkin, dengan penuh tanggung jawab"
*****
Tahun-tahun
pertama menyadarinya dari mereka yang ahli tentang itu, langit seperti
runtuh. Menindihku dan membuatku sulit bernafas, sulit bersosialisasi,
dan mengendapkan lara dalam keterpurukan. Tak jarang kusodorkan Tuhan
pertanyaan penuh rasa ketidakadilan, "Apa salahku? Apa dosaku?"
Dia putri pertamaku, Anjani--yang sebenarnya lebih ingin kunamai Imanuela--.
Usianya telah lebih lima tahun. Masa dimana semestinya bangku sekolah telah menjadi bagian dari hari-harinya.
Tapi dia bahkan belum bisa memanggilku bunda. Juga belum kuat berlari. Dan masih harus dituntun ketika berjalan.
Usianya telah lebih lima tahun. Masa dimana semestinya bangku sekolah telah menjadi bagian dari hari-harinya.
Tapi dia bahkan belum bisa memanggilku bunda. Juga belum kuat berlari. Dan masih harus dituntun ketika berjalan.
Terkadang...
segalanya terlihat begitu sulit. Rumit. Di ujung tanduk. Ketika support
menjadi begitu mahal didapatkan di sekitar, bahkan di dekatku
sekalipun. Tak jarang rapuhnya aku akan putriku mesti ditambahi dengan
macam rupa persoalan yang muncul hanya untuk membuat down. Dari orang
terdekat. Apakah mereka tak tahu betapa pilunya hatiku? Kenapa mesti
menambah-nambahi persoalan demi persoalan yang notabene dirancang untuk
semakin menciutkan semangatku semata?
Betapa bodohnya aku! ya, aku bodoh, sebab aku seperti pengemis support yang sebenarnya tak mengapa bila tak kudapatkan dari mereka-mereka yang memenuhi hati dengan kedengkian.
Tapi apakah aku mesti kalah dengan keadaan?Betapa bodohnya aku! ya, aku bodoh, sebab aku seperti pengemis support yang sebenarnya tak mengapa bila tak kudapatkan dari mereka-mereka yang memenuhi hati dengan kedengkian.
Aku punya Allah yang besar. Dan tak ada ujian yang tak sanggup kupikul karena stock kekuatan selalu diisi-Nya penuh. Selalu. Dan selalu.
Anakku sayang, maafkan bunda jika sering patah semangat hanya karena persoalan-persoalan, umpatan-umpatan, fitnah demi fitnah, yang semestinya kita abaikan.
Biarlah mereka berurusan dengan Tuhan atas itu.
Kita hanya harus tetap melanjutkan perjuangan kita.
Bunda tak memintamu sempurna, nak. Sebab bunda pun pasti tak sempurna. Bunda hanya ingin kita tabah dan kuat menjalani apa yang sudah digariskan untuk kita lalui.
Salam sayangku, peri kecilku.


