Hari-hariku

Kamis, 06 Maret 2014

Tentang Kematian

Pagi ini, aku kembali teringat tentang 'kematian'.
Ya, aku tahu bahwa sejatinya kematian adalah akhir sekaligus awal dari sebuah kehidupan.
Kematian tak harus membuatku takut. Bukankah kematian berarti bersama Tuhan, selamanya? Tapi ada dua hal yang membuat sesuatu dalam diriku berdebar dengan irama yang tidak karuan. Cepat, lambat, cepat, dan lambat lagi. Aku, takut!

Pertama, aku takut jika kematian membawaku pada penyesalan besar. Aku takut bila kematian menyentuh orang-orang yang kukasihi dan pada akhirnya menyisakan sesal yang membuatku merasa bersalah yang berkepanjangan.

Aku takut bila kekasaranku hari ini menjadi kekasaran terakhir bagi anak-anakku.
Aku takut bila cuekku hari ini adalah cuek yang terakhir bagi Ibuku.
Aku takut bila emosiku hari ini menjadi emosi yang terakhir kepada suamiku.
Aku takut bila pertengkaranku hari ini menjadi pertengkaran terakhir bagi saudaraku.
Aku takut bila makianku hari ini menjadi makian yang terakhir bagi sesamaku.
Aku takut bila amarahku hari ini menjadi amarah yang terakhir pada orang lain.

Dan kedua, Aku takut, ya aku takut. Aku juga takut jika kematian menghampiriku dan ketidaksiapan menjadi sesal di kehidupan sana. Aku takut jika pada akhirnya 'hitam' membawaku pada jilatan api yang menjadi tempat terakhir jiwaku. Dimana gertak gigi tak henti berbunyi mengerikan. Dan ketakutan hebat merongrong tiada henti.

Cinta. Aku ingin hanya cinta yang menjadi hal yang terakhir dariku untuk anak-anakku, suamiku, orang tuaku, saudaraku, dan sesamaku. Dan tentu kepada Tuhanku.

Tuntun aku ya, Tuhan, menjalani kehidupanku di dunia dengan berkenan di hati-Mu. Agar kelak aku bisa bersama-Mu di Sana, nanti. Jangan biarkan dunia membuatku lupa mengingat kematian. Apalah artinya sebuah bangunan tinggi, jika tempat terakhir kita hanya berukuran 1x2 meter. Dan apalah arti sebuah kesombongan karena rupawan, kecerdasan, dan kekayaan, bila pada akhirnya kita akan tertelan bumi, dan menjadi santapan renyah belatung dibawah sana.

Kita masih hidup? Itu berarti adalah berkah. Berkah karena masih ada kesempatan untuk mengingat Mati.

Kematian, hitam. Gelap. Sekaligus terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar