Hari-hariku

Jumat, 06 September 2013

Ketika Negara Kita Terancam Pecah

Sumber gambar : Penelusuran google
Sudah 68 tahun kita merdeka. Usia yang mengandung banyak makna. Matang, dewasa, atau malah merenta? Keriput. Rapuh. Bungkuk. Gemetar dan terseok-seok langkahnya. 

Ah, Indonesia. Miris kulihat berbagai aspek persoalan diNegeri ini selalu disangkut pautkan dengan SARA. Bahkan untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan agama sekalipun. Ancaman keamanan justru datang dari Negeri sendiri, bangsa sendiri. Apakah ini yang namanya merdeka?

Kasihan Bhineka Tunggal Ika. Kasihan Pancasila. Landasan kita itu bahkan telah mati suri dalam zaman reformasi yang menganut kebebasan dalam berpendapat.  Masing-masing kelompok merasa dirinya adalah benar. Apakah masih saja mimpi itu terngiang-ngiang dalam kepalamu hai anak bangsa? Mimpi untuk menyatukan bangsa ini. Menyatukan dalam satu ras, satu agama. Sementara kita penuh ragam. Corak tatanan keimanan. Budaya.

Kenapa dengan Bangsa sendiri kita justru tak bisa bersatu? Penjajahan bukan lagi dari bangsa lain. Tapi dari  Bangsa sendiri. Sekali lagi, miris!

Iklim demokrasi diIndonesia sedang sakit. Sedang mencari-cari bentuk, menurutku. Katup kebebasan terbuka dimasa sekarang, tapi bebas itupun telah menjadi bablas. Lihat saja sana-sini. Aspirasi rakyat tak tertutupi secuil pun. Cara menyalurkannya pun semakin bebas. Bahkan cenderung meresahkan masyarakat. Rakyat tidak segan lagi berkata kotor kepada Pemimpinnya, Presidennya. Memang benar bahwa Demokrasi memungkinkan segalanya untuk fair. Tapi alangkah baiknya bila dengan tidak mendatangkan kecaman bahaya bagi rakyat Negeri sendiri. Ataupun mengotori simbol Negara. Kasus pencoretan Bendera Merah Putih bergambar palu dan arit misalnya. Belum lagi tentang main hakim sendiri oleh ormas-ormas yang mengatasnamakan agama untuk melenyapkan bagian dari dirinya sendiri, satu bangsanya sendiri. Apa ini?!

Kita Negara Kesatuan Republik Indonesia, mas bro, mba bro, om, tante, pak, bu..! Bukan Negara Agama. Negara kelompok atau ras.

Pancasila benar-benar nyaris mati! 

Sebagian rakyat masih merindu dengan jaman orde baru yang tenang-tenang saja. Tidak penuh gonjang-ganjing. Harga serba murah. Rakyat sejahtera. Tapi konon semua ketentraman itu adalah kepalsuan yang harus ditanggung kini akibatnya. Bahkan mungkin untuk waktu yang lama. Bisa saja bagi anak dan cucu saya nanti. Ah, entahlah. Saya sendiri masih SD saat orde baru jaya dalam masanya. Tak mengerti yang sebenarnya terjadi dimasa itu. Tapi pengakuan rakyat yang tua-tua yang menikmati Rezim Soeharto, masa orde baru adalah masa paling sejahtera sepanjang kemerdekaan RI yang dilewatinya. Yang kutahu, pada masa itu kami tak boleh pulang sekolah sebelum menghafal butir-butir Pancasila. Mungkin saja sekarang sudah tidak lagi. Lenyap. Dan saat itu tak ada satupun rumah dilorong perumahan rumahku yang ketinggalan memasang bendera dibulan Agustus. Bahkan terkadang memasuki tanggal 1 Agustus, Bendera Merah Putih sudah pasti berkibar sejajar pagar rumah penduduk. Dan tiap tanggal 1 Juni, tak ada pula yang lupa untuk memasang bendera setengah tiang untuk merayakan hari kesaktian Pancasila. Semua rumah!

Well, ini yang paling kurindukan pada masa itu. Karena sekarang tak sedikit yang lupa atau malas untuk memasang bendera full apalagi setengah tiang. Mungkinkah kesaktian Pancasila telah lenyap?

Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya tak begitu berminat dengan segala dupa rupa politik. Saya hanya terkadang mengamati. Saya begitu mendamba sebuah keharmonisan, kedamaian, dalam kesatuan utuh Negara ini. Masih adakah itu? Saya hanya sering menemukan hujatan, hinaan pada agama lain. Antara agama satu dengan agama lainnya hampir tak bisa hidup berdampingan dengan damai. Mungkin tak begitu tercuat dengan gamblang ketika lontaran hujatan antar agama menjelma sebagai pembunuh kesatuan Negara. Tapi didukung reformasi yang bebas, tidak sulit kita menemukan hal ini dalam berbagai opini, komentar, dan pandangan dalam menyikapi segala aspek persoalan Negeri. Paling mudah bisa kita temukan adalah didunia maya. Bahkan tak jarang yang begitu mengharapkan kaum lainnya untuk dibumi hanguskan segala kelompoknya dari Negeri ini. Belum lagi premanisme yang meningkat. Wuoh.

Baiklah. Sebab saya hanyalah pengamat politik amatiran. Pada akhirnya hanya doa. Doa agar Tuhan mengaruniai Indonesia dengan orang-orang yang benar-benar Negarawan diNegeri ini. Demi masa depan generasi selanjutnya.  Demi pemerataan pembangunan. Demi kesejahteraan bangsa. Demi Pancasila yang bangkit lagi. Dan keharmonisan dalam keberagaman. Jangan sampai akhir cerita bangsa kita adalah perpecahan. Menjadi beragam Negara.
 
Saya cinta Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar