Cerpen karya : Rahwiyani
Lulusan Akuntansi yang mencintai dunia sastra.
Mandikan Dhita, Ma...
“Pergi
sana!!!” bak seorang
mandor kuhalau Dhita dari hadapanku dengan geram. Dia selalu saja mencari-cari
perhatianku. Perhatian yang tiba-tiba mendadak menjadi mahal belakangan ini. Namun
seperti tak ingin berhenti dan tak pernah menyerah, dadanya terus berkobar untuk
mengejar cinta yang telah meredam dipelupuk jiwaku. Buku gambarnya dipegangnya
terus dan disodorkan padaku. Namun itu justru
membuatku muak, dan tak sedikitpun aku bergairah untuk melihat isi buku
itu apalagi memuji hasil karyanya hari itu. Sepertinya Ditha mengerti kalau aku
sama sekali tak berminat untuk melihat gambarnya. Tertunduk lesuh dipeluknya
buku gambarnya. Tersirat kesedihan dan kekecewaan diwajah mungilnya, tapi aku
tidak peduli.
“Kenapa
malah bengong..!!! Masuk kamarmu cepat ! dan selesaikan semua PRmu !” Bentakku sekali lagi dengan mata yang
kali ini benar-benar sangat melotot seperti ingin keluar dari tempatnya. Dhita
terperanjat. Dia ketakutan! Dengan lunglai Ditha memasuki kamar dan menghilang
dari pandanganku. Namun beberapa saat kemudian Dhita keluar lagi dari dalam
kamar dengan wajah menunduk dan kelihatannya masih gemetar. Dia mengangkat
wajahnya dengan sangat perlahan.
“Ma…bo..bo..boleh
nggak Mama bantuin Dhi..dhita mengerjakan PR matematika Dhita, ma….”
“Tidak
!” Akhirnya Dhita benar-benar berlalu dari
hadapanku dan keadaan menjadi sepi. Ya, mungkin begini lebih baik. Dulu, aku
tak pernah menolak untuk mendampinginya belajar. Bahkan sebelum dia mintapun
aku selalu ingin menemaninya. Tapi itu dulu. Dan sekarang aku tak akan peduli
lagi. Sebab aku benci dia. Yah, aku membenci Dhita, anakku.
Kuseruput sisa kopiku yang sudah dingin
dari tadi, sedingin hatiku. Kuhabiskan dengan perasaan kacau. Ketabahan hati
gadis kecil bermata coklat itu sungguh tak pernah mampu membuka pintu kasih dan
sayangku yang telah tertutup rapat-rapat untuknya. Iseng kulirik kamar Dhita.
Pintunya tidak tertutup, kutengok kedalam. Tak ada Dhita dikursi belajarnya. Rupanya Dhita tertidur dikasurnya
ditemani boneka Teddynya. Kedua tangannya memeluk buku gambarnya. Entah kenapa tiba-tiba
saja ada dorongan dari dalam hatiku untuk memasuki kamar itu. Kamar yang telah
2 bulan tidak pernah kumasuki lagi. Anehnya, tiba-tiba aku jadi rindu dengan
kamar ini. Kamar yang dulunya aku tempati bermain dengan Dhita. Disini aku
selalu mendongengkan Dhita sebuah cerita sebelum dia tertidur. Disini pula aku
belajar bersamanya dan memeriksa semua apa yang Dhita pelajari hari itu
disekolah. Tapi saat ini, dia tertidur tanpa ceritaku dan menyelesaikan tugas
rumahnya tanpa bimbinganku. Ahh…Dhita.
Mencoba menghempas segala hal
tentangnya, bergegas kulangkahkan kaki ingin keluar dari ruangan ini. Tapi aku Rindu.
Dan rindu ini menahanku untuk tetap disini.. Rindu????. Oh..Sungguhkah ini
sebuah kerinduan pada Dhita ?. Yang kutahu, rasa ini bergejolak dilautan jiwaku
sedemikian hebatnya. Benar, Aku merindukan gadis kecil yang sedang tertidur
dihadapanku. Dia begitu dekat namun kini serasa begitu jauh. Dan aku tahu, aku
sendiri yang meletakkan pembatas itu diantara kami.
“Aku
merasa bersalah? “
“Ah,
dia yang salah!!”
Kutatap mata yang sedang terpejam itu.
Oh Tuhan, betapa manisnya gadis kecilku ini saat dia tertidur. Indah wajahnya
bagaikan bidadari-bidadari milik Allah. Kubatalkan niatku untuk pergi dari
kamar Dhita. Kupegang tangannya. Tangan mungil yang lembut, sungguh membuatku
rindu dan ingin menangis. Menangis karena harus merasakan hal ini, menangis
atas semua yang telah terjadi, dan menangis kenapa harus ‘Dhita’ku yang jadi
penyebab semua ini. Kuambil buku gambar yang Dhita peluk dan kubuka. Rupanya
hari ini Dhita menggambar sketsa wajahku. Belum begitu sempurna namun untuk
seukuran anak kelas 2 SD bisa jadi gambar itu bernilai 100. Mungkin inilah
mengapa dari tadi dia begitu ingin memperlihatkannya padaku. Yang menarik
perhatianku adalah tulisan dibawah gambarnya itu, “Dhita sayang mama”. Aku
keluar dari kamar Dhita dan berlari menuju kamarku sendiri. Pilu…pilu rasanya dada
ini. Ya Tuhan, sejujurnya aku juga begitu menyayangi gadis kecil ini, namun ada
sisi hatiku yang ditempati oleh sebuah rasa benci terhadapnya. Dan begitu sulit
rasa ini tuk kulepas. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi?
Sebenarnya, Dhita hanyalah anak
angkatku. Aku dan suamiku mengadopsinya 8 tahun lalu disalah satu panti asuhan
dikota kami. Waktu itu umurnya baru genap setahun. Kata pengurus panti asuhan,
orang tuanya meninggalkannya didepan pagar panti asuhan itu. Sampai saat ini
tidak pernah diketahui siapa sebenarnya orang tua kandung Dhita. Walaupun aku
sekarang sangat membencinya, namun rahasia ini tidak pernah kubongkar, dia
tetap tahu kalau aku dan suamikulah orang tua kandungnya. Ditha tidak pernah
tahu asal usulnya yang sesungguhnya. Lalu, Kenapa juga aku masih terus menyimpan
rahasia ini ?, apa mungkin aku masih menganggap Dhita sebagai anakku sendiri
setelah apa yang terjadi antara aku, Dhita, dan calon adiknya ? Ya, calon adik
Dhita. Seorang anak yang telah kutunggu-tunggu selama 10 tahun dalam bahtera
rumah tanggaku. Seorang anak yang begitu kurindukan dalam penantian yang begitu
panjang. 10 tahun menikah aku dan suamiku belum dikaruniai seorang anak.
Berbagai macam usaha kami lakukan namun tak kunjung membuahkan hasil. Namun
kami tetap bersabar dan tetap bertekun dalam doa. Dalam penantian, kami
memutuskan untuk mengadopsi Dhita, dan kami sangat menyayanginya, layaknya dia
adalah anak kandung kami. Hingga akhirnya, tiga bulan lalu, aku dinyatakan
positif hamil oleh dokter. Rasanya tak ada satupun yang dapat menandingi
kebahagiaan ini.
“Horeeeee….Dhita
akan jadi kakak…Dhita punya teman main sekarang…horeeeee” Dhita meloncat kegirangan waktu itu,
waktu kukabari kalau dia akan punya adik sebentar lagi.
Naas, bahagia itu telah menjadi
tangisan dan dalam sekejap berhasil merajut untaian perih dan berbekas hingga
kini. Berawal dua bulan lalu, ketika tiba-tiba Dhita menjadi begitu rewel sore
itu. Dhita tidak mau mandi dengan bibi Inah. Dia hanya mau mandi denganku.
“Mandinya
sama bibi Inah ya sayang…kepala mama lagi sakit sayang…”
“Gak
mau…! pokoknya ga mau…!!! Dhita Cuma mau mandi dengan mama. Titik !” Dhita menangis sejadi-jadinya saat aku
masih saja menolak untuk memandikannya. Akhirnya aku mengalah, walau dengan
kepala yang sedikit pusing aku bergegas kekamar mandi untuk memandikan Dhita.
Tapi petaka itu terjadi dikamar mandi. Aku terpeleset karena lantai begitu
licin. Rupanya sedari tadi Dhita bermain sabun penuh dilantai kamar. Aku
merasakan sesuatu yang sangat sakit diperutku. Dan lebih sakit lagi ketika
harus mendengar pengakuan dokter kalau aku keguguran. Ya, sejak itulah aku
membenci Dhita.
“Ma…kenapa
mama menangis ?Jangan menangis ya, Ma…” Dhita menghampiriku, Spontan dia
membuyarkan ingatanku atas masa-masa kelam itu. Rupanya dia sudah bangun. Ditha
ingin memelukku namun langsung aku cegah dengan menghindar darinya.
“Pa,
Sepertinya mama ga sayang Dhita lagi, Dhita ada salah ya Pa ?” Dhita berlari kearah Papanya yang baru
pulang kerja.
“Nggak
sayang, mama hanya lagi kurang enak badan saja….Mama sayang Dhita kok, sekarang
kita main bola dibelakang rumah yukkk….”
“Horeeeee….main
bola lagi….”
“Hmmm…tapi
kok anak papa kecut ya….aihhh lum mandi nih Dhitanya papa pasti…”
“Hehehe…iya…nanti
aja kalo da main bola pa..”
“Loh,
kan da sore sayang, mandi dulu yuk sama bibi Inah, abis itu kita main bola
deh…”
“Mandi
sama mama boleh ? kangen dimandiin ma mama…udah lama ga dimandiin mama” Dhita menundukkan kepala sedih.
“Iya
sayang, nanti ya kalau mamanya Dhita sudah sehat baru mandiin Dhita lagi,
sekarang Dhita mandi ma bibi Inah dulu ya…”
“Oceeeee…..mmmuuuaaah
“ Ditha mencium pipi kanan papanya.
“ Dhita, bisa gak makannya cepat sedikit !!!” Kesal aku melihat Dhita yang begitu
lamban dengan sarapannya pagi ini.
“Ma,
jangan begitu dong ma…kasian Dhitanya jadi kaget begitu.Nanti Dhita keselek
lagi. Kejadian itu sudah jalan hidup kita dari Tuhan Ma, mama yang sabar
yah…jangan terus menyalahkan Dhita” Papa merangkul pundakku dengan sabar. Aku diam dan malas untuk berkata-kata
lagi. Terkadang aku pikir aku sudah berlebihan terhadap Dhita, benar kata Papa,
ini sudah jalan hidup kami. Dan tidak kusangka Dhita datang memelukku. Ya
Tuhan, sebenarnya aku rindu dengan tangan mungil dan bau manis ini. Namun aku
hanya terdiam tanpa memberi respon apa-apa keDhita.
“Ya
sudah, habiskan sarapannya dan berangkat, sudah hampir telat kalian” Tapi
Dhita seolah tidak ingin melepas pelukannya. Dia terus memelukku, sangat erat.
“Dhita
sayang mama….” Sebenarnya
aku ingin membalas pelukan Dhita, tapi kesedihan atas kehilangan calon bayiku
itu masih belum bisa aku lupakan.
Ahh
Ditha andai saja hari itu kamu tidak serewel itu dan mau mandi dengan bibi inah,
bukan dengan mama ….tahukah kamu nak, hati ini sakit dan pedih
harus kehilangan janin yang telah sangat lama mama tunggu…
“Sudah,sudah…” aku melepaskan pelukan Dhita dari
tubuhku.
“Ma,
nanti siang mama yang jemput Dhita pulang sekolah ya, karena kebetulan papa ada
janji dengan klien siang nanti, dan bertepatan dengan jam pulang sekolah Dhita”
“Hum…Iyah…”
Jawabku dengan agak malas.
Pukul
01.00 siang didepan sekolah Dhita.
Aku melihat sekelompok manusia
bergerombol disitu,panik dan histeris. Duh bikin macet saja. Tapi
hei….kupusatkan pandanganku di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. Aku
tiba-tiba menjadi panik dan ketakutan…
Kok,
itu seperti Dhi….
Aku turun dari mobil dan berlari
kencang kesana. Ya Tuhan…Dhita…!! Kata orang-orang disitu Dhita baru saja jadi
korban tabrak lari karena kelihatannya lama menunggu seseorang dan akhirnya
bermain sampai di jalan dan tak melihat ada mobil tiba-tiba melintas.
Dhitaaaaaa…………!!!Dhitaaaaaaaaaa………!
Bangun naaaaakkkkk…!!!! Aku
menangis sejadi-jadinya. Berharap Dhita bangun membuka mata dengan keadaan yang
baik-baik saja agar aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki hari-hari kami
yang semestinya bahagia. Aku lemas. Rasanya tubuhku tak mampu lagi kugerakkan. Dhita
sudah tak bernyawa lagi. Aku bahkan merasa kehilangan yang lebih sakit saat ini
dibanding kehilangan janinku dulu.
“Dhita, maafkan mama, karena mama baru mau memandikan Dhita saat Dhita tak bisa
lagi merengek meminta mama melakukannya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar