Hari-hariku

Sabtu, 23 Maret 2013

Mandikan Dhita, ma..


Cerpen karya : Rahwiyani
Lulusan Akuntansi yang mencintai dunia sastra. 

  Mandikan Dhita, Ma...

“Pergi sana!!!” bak seorang mandor kuhalau Dhita dari hadapanku dengan geram. Dia selalu saja mencari-cari perhatianku. Perhatian yang tiba-tiba mendadak menjadi mahal belakangan ini. Namun seperti tak ingin berhenti dan tak pernah menyerah, dadanya terus berkobar untuk mengejar cinta yang telah meredam dipelupuk jiwaku. Buku gambarnya dipegangnya terus dan disodorkan padaku. Namun itu justru  membuatku muak, dan tak sedikitpun aku bergairah untuk melihat isi buku itu apalagi memuji hasil karyanya hari itu. Sepertinya Ditha mengerti kalau aku sama sekali tak berminat untuk melihat gambarnya. Tertunduk lesuh dipeluknya buku gambarnya. Tersirat kesedihan dan kekecewaan diwajah mungilnya, tapi aku tidak peduli.
“Kenapa malah bengong..!!! Masuk kamarmu cepat ! dan selesaikan semua PRmu !” Bentakku sekali lagi dengan mata yang kali ini benar-benar sangat melotot seperti ingin keluar dari tempatnya. Dhita terperanjat. Dia ketakutan! Dengan lunglai Ditha memasuki kamar dan menghilang dari pandanganku. Namun beberapa saat kemudian Dhita keluar lagi dari dalam kamar dengan wajah menunduk dan kelihatannya masih gemetar. Dia mengangkat wajahnya dengan sangat perlahan.
“Ma…bo..bo..boleh nggak Mama bantuin Dhi..dhita mengerjakan PR matematika Dhita, ma….”
“Tidak !” Akhirnya Dhita benar-benar berlalu dari hadapanku dan keadaan menjadi sepi. Ya, mungkin begini lebih baik. Dulu, aku tak pernah menolak untuk mendampinginya belajar. Bahkan sebelum dia mintapun aku selalu ingin menemaninya. Tapi itu dulu. Dan sekarang aku tak akan peduli lagi. Sebab aku benci dia. Yah, aku membenci Dhita, anakku.
Kuseruput sisa kopiku yang sudah dingin dari tadi, sedingin hatiku. Kuhabiskan dengan perasaan kacau. Ketabahan hati gadis kecil bermata coklat itu sungguh tak pernah mampu membuka pintu kasih dan sayangku yang telah tertutup rapat-rapat untuknya. Iseng kulirik kamar Dhita. Pintunya tidak tertutup, kutengok kedalam. Tak ada Dhita dikursi  belajarnya. Rupanya Dhita tertidur dikasurnya ditemani boneka Teddynya. Kedua tangannya memeluk buku gambarnya. Entah kenapa tiba-tiba saja ada dorongan dari dalam hatiku untuk memasuki kamar itu. Kamar yang telah 2 bulan tidak pernah kumasuki lagi. Anehnya, tiba-tiba aku jadi rindu dengan kamar ini. Kamar yang dulunya aku tempati bermain dengan Dhita. Disini aku selalu mendongengkan Dhita sebuah cerita sebelum dia tertidur. Disini pula aku belajar bersamanya dan memeriksa semua apa yang Dhita pelajari hari itu disekolah. Tapi saat ini, dia tertidur tanpa ceritaku dan menyelesaikan tugas rumahnya tanpa bimbinganku. Ahh…Dhita.
Mencoba menghempas segala hal tentangnya, bergegas kulangkahkan kaki ingin keluar dari ruangan ini. Tapi aku Rindu. Dan rindu ini menahanku untuk tetap disini.. Rindu????. Oh..Sungguhkah ini sebuah kerinduan pada Dhita ?. Yang kutahu, rasa ini bergejolak dilautan jiwaku sedemikian hebatnya. Benar, Aku merindukan gadis kecil yang sedang tertidur dihadapanku. Dia begitu dekat namun kini serasa begitu jauh. Dan aku tahu, aku sendiri yang meletakkan pembatas itu diantara kami.
Aku merasa bersalah? “
“Ah, dia yang salah!!”
Kutatap mata yang sedang terpejam itu. Oh Tuhan, betapa manisnya gadis kecilku ini saat dia tertidur. Indah wajahnya bagaikan bidadari-bidadari milik Allah. Kubatalkan niatku untuk pergi dari kamar Dhita. Kupegang tangannya. Tangan mungil yang lembut, sungguh membuatku rindu dan ingin menangis. Menangis karena harus merasakan hal ini, menangis atas semua yang telah terjadi, dan menangis kenapa harus ‘Dhita’ku yang jadi penyebab semua ini. Kuambil buku gambar yang Dhita peluk dan kubuka. Rupanya hari ini Dhita menggambar sketsa wajahku. Belum begitu sempurna namun untuk seukuran anak kelas 2 SD bisa jadi  gambar itu bernilai 100. Mungkin inilah mengapa dari tadi dia begitu ingin memperlihatkannya padaku. Yang menarik perhatianku adalah tulisan dibawah gambarnya itu, “Dhita sayang mama”. Aku keluar dari kamar Dhita dan berlari menuju kamarku sendiri. Pilu…pilu rasanya dada ini. Ya Tuhan, sejujurnya aku juga begitu menyayangi gadis kecil ini, namun ada sisi hatiku yang ditempati oleh sebuah rasa benci terhadapnya. Dan begitu sulit rasa ini tuk kulepas. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi?
Sebenarnya, Dhita hanyalah anak angkatku. Aku dan suamiku mengadopsinya 8 tahun lalu disalah satu panti asuhan dikota kami. Waktu itu umurnya baru genap setahun. Kata pengurus panti asuhan, orang tuanya meninggalkannya didepan pagar panti asuhan itu. Sampai saat ini tidak pernah diketahui siapa sebenarnya orang tua kandung Dhita. Walaupun aku sekarang sangat membencinya, namun rahasia ini tidak pernah kubongkar, dia tetap tahu kalau aku dan suamikulah orang tua kandungnya. Ditha tidak pernah tahu asal usulnya yang sesungguhnya. Lalu, Kenapa juga aku masih terus menyimpan rahasia ini ?, apa mungkin aku masih menganggap Dhita sebagai anakku sendiri setelah apa yang terjadi antara aku, Dhita, dan calon adiknya ? Ya, calon adik Dhita. Seorang anak yang telah kutunggu-tunggu selama 10 tahun dalam bahtera rumah tanggaku. Seorang anak yang begitu kurindukan dalam penantian yang begitu panjang. 10 tahun menikah aku dan suamiku belum dikaruniai seorang anak. Berbagai macam usaha kami lakukan namun tak kunjung membuahkan hasil. Namun kami tetap bersabar dan tetap bertekun dalam doa. Dalam penantian, kami memutuskan untuk mengadopsi Dhita, dan kami sangat menyayanginya, layaknya dia adalah anak kandung kami. Hingga akhirnya, tiga bulan lalu, aku dinyatakan positif hamil oleh dokter. Rasanya tak ada satupun yang dapat menandingi kebahagiaan ini.
“Horeeeee….Dhita akan jadi kakak…Dhita punya teman main sekarang…horeeeee” Dhita meloncat kegirangan waktu itu, waktu kukabari kalau dia akan punya adik sebentar lagi.
Naas, bahagia itu telah menjadi tangisan dan dalam sekejap berhasil merajut untaian perih dan berbekas hingga kini. Berawal dua bulan lalu, ketika tiba-tiba Dhita menjadi begitu rewel sore itu. Dhita tidak mau mandi dengan bibi Inah. Dia hanya mau mandi denganku.
“Mandinya sama bibi Inah ya sayang…kepala mama lagi sakit sayang…”
“Gak mau…! pokoknya ga mau…!!! Dhita Cuma mau mandi dengan mama. Titik !” Dhita menangis sejadi-jadinya saat aku masih saja menolak untuk memandikannya. Akhirnya aku mengalah, walau dengan kepala yang sedikit pusing aku bergegas kekamar mandi untuk memandikan Dhita. Tapi petaka itu terjadi dikamar mandi. Aku terpeleset karena lantai begitu licin. Rupanya sedari tadi Dhita bermain sabun penuh dilantai kamar. Aku merasakan sesuatu yang sangat sakit diperutku. Dan lebih sakit lagi ketika harus mendengar pengakuan dokter kalau aku keguguran. Ya, sejak itulah aku membenci Dhita.   
Ma…kenapa mama menangis ?Jangan menangis ya, Ma…” Dhita menghampiriku, Spontan dia membuyarkan ingatanku atas masa-masa kelam itu. Rupanya dia sudah bangun. Ditha ingin memelukku namun langsung aku cegah dengan menghindar darinya.
“Pa, Sepertinya mama ga sayang Dhita lagi, Dhita ada salah ya Pa ?” Dhita berlari kearah Papanya yang baru pulang kerja.
“Nggak sayang, mama hanya lagi kurang enak badan saja….Mama sayang Dhita kok, sekarang kita main bola dibelakang rumah yukkk….”
“Horeeeee….main bola lagi….”
“Hmmm…tapi kok anak papa kecut ya….aihhh lum mandi nih Dhitanya papa pasti…”
“Hehehe…iya…nanti aja kalo da main bola pa..”
“Loh, kan da sore sayang, mandi dulu yuk sama bibi Inah, abis itu kita main bola deh…”
“Mandi sama mama boleh ? kangen dimandiin ma mama…udah lama ga dimandiin mama” Dhita menundukkan kepala sedih.
“Iya sayang, nanti ya kalau mamanya Dhita sudah sehat baru mandiin Dhita lagi, sekarang Dhita mandi ma bibi Inah dulu ya…”
“Oceeeee…..mmmuuuaaah “ Ditha mencium pipi kanan papanya.


 “ Dhita, bisa gak makannya cepat sedikit !!!” Kesal aku melihat Dhita yang begitu lamban dengan sarapannya pagi ini.
Ma, jangan begitu dong ma…kasian Dhitanya jadi kaget begitu.Nanti Dhita keselek lagi. Kejadian itu sudah jalan hidup kita dari Tuhan Ma, mama yang sabar yah…jangan terus menyalahkan Dhita” Papa merangkul pundakku dengan sabar. Aku diam dan malas untuk berkata-kata lagi. Terkadang aku pikir aku sudah berlebihan terhadap Dhita, benar kata Papa, ini sudah jalan hidup kami. Dan tidak kusangka Dhita datang memelukku. Ya Tuhan, sebenarnya aku rindu dengan tangan mungil dan bau manis ini. Namun aku hanya terdiam tanpa memberi respon apa-apa keDhita.
Ya sudah, habiskan sarapannya dan berangkat, sudah hampir telat kalian” Tapi Dhita seolah tidak ingin melepas pelukannya. Dia terus memelukku, sangat erat.
“Dhita sayang mama….” Sebenarnya aku ingin membalas pelukan Dhita, tapi kesedihan atas kehilangan calon bayiku itu masih belum bisa aku lupakan.
Ahh Ditha andai saja hari itu kamu tidak serewel itu dan mau mandi dengan bibi inah, bukan dengan mama ….tahukah kamu nak, hati ini sakit dan pedih harus kehilangan janin yang telah sangat lama mama tunggu…
 “Sudah,sudah…” aku melepaskan pelukan Dhita dari tubuhku.
Ma, nanti siang mama yang jemput Dhita pulang sekolah ya, karena kebetulan papa ada janji dengan klien siang nanti, dan bertepatan dengan jam pulang sekolah Dhita”
“Hum…Iyah…” Jawabku dengan agak malas.

Pukul 01.00 siang didepan sekolah Dhita.
Aku melihat sekelompok manusia bergerombol disitu,panik dan histeris. Duh bikin macet saja. Tapi hei….kupusatkan pandanganku di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. Aku tiba-tiba menjadi panik dan ketakutan…
Kok, itu seperti Dhi….
Aku turun dari mobil dan berlari kencang kesana. Ya Tuhan…Dhita…!! Kata orang-orang disitu Dhita baru saja jadi korban tabrak lari karena kelihatannya lama menunggu seseorang dan akhirnya bermain sampai di jalan dan tak melihat ada mobil tiba-tiba melintas.
Dhitaaaaaa…………!!!Dhitaaaaaaaaaa………! Bangun naaaaakkkkk…!!!! Aku menangis sejadi-jadinya. Berharap Dhita bangun membuka mata dengan keadaan yang baik-baik saja agar aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki hari-hari kami yang semestinya bahagia. Aku lemas. Rasanya tubuhku tak mampu lagi kugerakkan. Dhita sudah tak bernyawa lagi. Aku bahkan merasa kehilangan yang lebih sakit saat ini dibanding kehilangan janinku dulu.
“Dhita, maafkan mama, karena mama baru mau memandikan Dhita saat Dhita tak bisa lagi merengek meminta mama melakukannya”